Home > Belajar > Bagaimana Tanpa Televisi ?

Bagaimana Tanpa Televisi ?

ini bukan berarti zaman di putar mundur kebelakang ke zaman yang belum ada televisi ditemukan, melainkan bagaimana rasanya jika hari ini kita meniadakan televisi sendiri untuk keluarga kita ?

kalau keluarga di rumah hampir tidak mungkin, karena keponakan saya setiap hari mulai bangun pagi sampai mau tidur pasti melototin televisi. mulai dari film karton, playstation sampai sinetron. Walaupun umurnya baru tiga tahun lebih, tapi usianya tidak menunjukkan prilakunya, karena efek dari televisi rupanya sudah sangat kuat.

untuk saya sendiri, sebenarnya tidak masalah jika harus tidak menonton televisi satu hari, atau dua hari. mungkin pada hari ketiga dan keempat saya masih bisa menahannya, tetapi jika sampai pada hari ke tujuh, mungkin sudah terbiasa tidak ada televisi.

bermula ketika teman sekaligus klien saya yang datang ke rumah, melihat keponakan saya yang uring-uringan karena tidak bisa memainkan game skateboard yang ada di PS3, dan membuat kebisingan di rumah. Saya langsung menanyakan pada teman saya tersebut, apakah di rumahnya anak-anak bertingkah sama seperti di rumah ini ?

jawaban yang tidak pernah saya duga sebelumnya, karena teman saya ini malah menjawab, “di rumah saya tidak ada televisi” … weee … kalau pengen tau teman saya ini punya istri seorang dokter, beliau sendiri adalah lulusan S2 Ekonomi.

Tidak memiliki televisi untuk teman seperti ini sepertinya hampir mustahil, tetapi rupanya doi punya alasan tersendiri, “televisi banyak merugikan daripada menguntungkan”.

kalau dilihat zaman sekarang, sepertinya semua kekacauan di indonesia ini hampir sudah pasti disebabkan 90% lebih oleh apa yang mereka lihat di televisi. Mulai dari kekerasan, tindakan kriminal, pencurian, Genk motor, Genk mobil, dan lain sebagainya bermula dari tontonan di televisi yang menghipnotis hampir seluruh orang indonesia.

Awal mula korupsi pun terjadi karena televisi. bagaimana tidak, karena setiap hari kita dipertontonkan tayangan yang menggambarkan kemewahan dan kemegahan, sehingga secara tidak sadar otak kita terkondisikan untuk menjadi / mengikuti apa yang dilihat oleh mata ini. Alhasil sang anak akan merengek kepada orang tuanya menuntut seperti di televisi, dan beruntung jika penghasilan orang tuanya besar, tapi jika kecil maka korupsilah pilihannya.

Ada impian baru yang muncul, bagaimana nantinya saya berumah tangga dan hidup bersama dari awal pernikahan sampai mempunyai anak dan membesarkan bersama anak-anak tanpa televisi.

kalau anda bagaimana, apakah anda juga salah satu korban televisi ?





Apa Komentar anda mengenai tulisan ini ?